Tanaman Transgenik
Posted by veishe on March 13, 2008
Kekhawatiran terhadap tanaman transgenik.
Adanya reaksi alergis pada manusia satu-satunya dampak negatif gangguan kesehatan yang disebabkan mengkonsumsi bahan pangan transgenik yang sudah dapat dibuktikan melalui percobaan skinprick testing. Hal ini dibuktikan oleh Nordlee dan kawan-kawan pada tahun 1996. Oleh karena itu seluruh gen yang dipergunakan maupun produk yang telah dihasilkan ditarik dari peredaran, sehingga dapat dikatakan bahwa sampai saat ini belum ada lagi dijumpai keberadaan dampak negatif mengkonsumsi pangan transgenik terhadap gangguan kesehatan pada manusia. Disamping hal positif terdapat kekhawatiran dari sebagian masyarakat bahwa tanaman transgenik akan mengganggu, merugikan dan membahayakan bagi kesehatan manusia. Berikut akan diuraikan mengenai kekhawatiran dan fakta yang mendukung bahwa tanaman transgenik merupakan produk yang aman.
1. Kemungkinan menimbulkan keracunan.
Ada kekhawatiran apabila manusia memakan organisme khususnya tanaman transgenik yang mengandung gen Bt-endotoxin akan mati karena keracunan. Kekhawatiran tersebut didasari oleh sifat beracun dari gen Bt terhadap serangga, karena serangga yang memakan tanaman transgeniktersebut akan mati akibat racun gen Bt. Pendapat ini tidak benar karena gen Bt hanya akan bekerja secara aktif dan bersifat racun apabila bertemu sinyal penerima (receptor) di dalam usus serangga dari golongan yang sesuai dengan dengan virulensinya. Gen Cry I hanya manjur untuk serangga golongan Lepidoptera sedangkan gen Cry III hanya untuk Coleoptera. Usus serangga mempunyai pH basa sedangkan usus manusia mempunyai pH asam dan tidak memiliki sinyal penerima Bt. Menurut hasil penelitian gen Bt tidak stabil dan aktif pada pH lebih kecil dari lima. Selain itu sejak puluhan tahun yang lalu Bt-toxin telah digunakan oleh petani di negara maju sebagai pestisida hayati yang aman baik terhadap hewan, serangga berguna maupun manusia. Oleh karena itu secara ilmiah tanaman transgenik yang mengandung gen Cry tidak akan beracun terhadap manusia.
2. Kemungkinan menimbulkan alergi
Kekhawatiran lain dari tanaman hasil rekayasa genetik adalah sebagai penyebab alergi. Satu sampai dua persen orang dewasa dan 4-6% anak-anak menderita alergi akibat makanan. Beberapa komoditas yang digunakan sebagai bahan makanan diketahui dan dikenal sebagai sumber bahan penyebab alergi (allergen) seperti brazil nut, crustacean, gandum, ikan, kacang tanah, kedelai dan padi. Sebagai peneliti sebelum mengisolasi gen interes dari suatu komoditas untuk digunakan dalam perakitan tanaman transgenik kita harus mengetahui terlebih dahulu sumber-sumber allergen. Penggunaan gen yang berasal dari sumber allergen harus benar-benar dihindari.
Suatu studi kasus yang relevan yang telah dilakukan adalah perakitan tanaman transgenik untuk memperoleh kedelai dengan kandungan metionin tinggi, karena diketahui tanaman kedelai mempunyai kandungan metionin rendah. Oleh karena itu dilakukan isolasi gen metionin dari tanaman brazil nut yang mengandung metionin tinggi dan ditransfer ke tanaman kedelai. Perakitan tersebut berjalan dengan sukses dan diperoleh tanaman kedelai yang mengandung gen metionin. Tetapi setelah dilakukan pengujian sifat alergi terhadap manusia melalui uji skin prick ternyata hasilnya positif menyebabkan alergi. Sebagai akibat dari hasil pengujian tersebut maka pengembangan proyek kedelai transgenik dengan kandungan metionin tinggi dihentikan dan produk tersebut tidak dapat dikomersialkan.
Semua allergen adalah protein tetapi tidak semua protein adalah allergen. Makanan atau bahan pangan mengandubng puluhan ribu protein, tetapi sedikit sekali yang bersifat allergen. Allergen dijumpai dalam jumlah yang tinggi di dalam makanan atau bahan pangan, sebaliknya kandungan protein dari gen interes berjumlah sangat sedikit. Semua protein allergen bersifat stabil dan memerlukan waktu yang lama untuk dicerna di dalam sistim pencernaan. Sifat tersebut sangat berbeda dengan protein tanaman dimana gen donor hanya dalam waktu beberapa detik sudah dapat dicerna. Selain itu diketahui pula bahwa semua allergen terdapat dalam konsentrasi tinggi dalam makanan serta stabil dan aktif pada suhu lebih besar 65oC dan pH 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen donor sebagai bahan gen transgenik tidak stabil dan aktif pada suhu lebih besar dari 65oC dan pH 5, sehingga apabila dilakukan pemanasan dalam proses memasak makanan tidak berfungsi lagi.
3. Kemungkinan menyebabkan bakteri dalam tubuh manusia dan tahan antibiotik.
Ada kekhawatiran lain bahwa penggunaan marka tahan antibiotik seperti kanamycin resistant (Kan-R) dalam tanaman transgenik menyebabkan bakteri di dalam tubuh menjadi resisten terhadap antibiotik. Kemungkinan bakteri di dalam tubuh menjadi resisten karena transfer horizontal gen Kan-R dari tanaman transgenik yang dikonsumsi ke bakteri di dalam usus adalah sangat kecil. Gen Kan-R yang ditransfer ke tanaman melalui rekayasa genetika akan terinkorporasi ke dalam genom tanaman. Sedangkan tanaman tidak mempunyai suatu mekanisme untuk mentransfer gen yang sudah terinkorporasi tersebut ke bakteri. Terjadinya transformasi pada bakteri memerlukan suatu kesamaan homologi yang tinggi antara utas DNA donor dan DNA penerima. Selain itu gen yang ada pada tanaman berada di bawah komando promotor tanaman yang tidak akan bekerja pada bakteri. Cara yang lebih cepat untuk menjadikan bakteri dalam tubuh menjadi resisten terhadap antibiotik adalah dengan mengkonsumsi antibiotik yang berlebihan sewaktu orang sedang sakit. Menurut penelitian, manusia diestimasi telah mengkonsumsi 1 juta jasad renik tahan kanamicin melalui bahan pangan seperti sayur-sayuran mentah. Disamping itu secara alami 4 triliun bakteri tahan kanamicin sudah ada dan menghuni usus manusia. Pernah juga dikatakan adanya resistensi terhadap beberapa jenis antibiotika apabila mengkonsumsi pangan transgenik, tetapi setelah diteliti penyebabnya bukan disebabkan karena penggunaan bahan pangan transgenik tetapi adanya residu antibiotita yang berlebihan pada air susu yang diproduksi dengan menggunakan bahan transgenik. Setelah ditelusuri ternyata sapi-sapi yang disuntik hormon bovinesomatothropine (rBST) menghasilkan produksi susu yang meningkat.